Londo Gosong
Semasa simbah SD dulu, di lapangan sepakbola kabupaten seringkali diputar pilem layar tancep alias misbar (gerimis bubar). Pilem yang biasanya terbagi menjadi beberapa rol putaran itu menjadi acara paporit karena memang belum banyaknya alternatip hiburan yang tersedia saat itu. Salah satu pilem paporit simbah kala itu adalah si Pitung, yang gak pernah simbah tonton sampai rampung dikarenakan di saat rol terakhir mau habis, simbah hampir selalu diajak pulang oleh mbah kakung yang sudah ngantuk.
Di pilem lawas itu diceritakan bagaimana si Pitung dengan heroiknya melawan penjajah Belanda yang dengan wagunya diperankan oleh bintang-bintang pilem terkenal saat itu. Di hampir semua episode, usaha si Pitung selalu dijegal oleh orang pribumi yang malah justru menjadi antek penjajah. Kulitannya pribumi, tapi hatinya ikut Londo (Penjajah Belanda). Maka wajar jika lantas karakter ini disebut sebagai Londo Gosong.
Karakter Londo Gosong ini merupakan karakter pengkhianat yang selalu merugikan sang tokoh pahlawan. Tidak hanya di pilem si Pitung karakter Londo Gosong ini bisa ditemui, tapi di pilem-pilem kepahlawanan lainnya selalu saja ada karakter dengan perilaku Londo Gosong ini. Ciri-ciri Londo Gosong era jaman pilem kuno ini selalu diwarnai dengan watak pengkhianat yang mau menjual bangsanya sendiri. Rela dijejeli roti keju buat menusuk dari dalam. Lebih mencintai gulden Londo daripada gobangan rupiah anak negeri. Dan lebih bangga mengonsumsi apa-apa yang berbau Londo daripada produk dewek.
Jika sampeyan mau mengamati, sebenarnya propil Londo Gosong ini tak hanya berhenti di cerita-cerita pilem perang kemerdekaan. Bahkan, setelah merdeka pun karakter Londo Gosong ini sebenarnya bukannya punah, tapi justru semakin merambah. Tentu saja hanya pemerannya saja yang berganti, sementara sifat karakter tokohnya tetap. Jika dulu negeri ini dikangkangi kongsi dagang VOC atawa kumpeni, sekarang kongsi yang mengangkanginya macem-macem, walau sebagiannya tetep tiga hurup macem IMF, WTO, atau CGI. Kalau dulu ada centeng kumpeni, mata-mata londo, atau ndoro tuan tanah, propil Londo Gosong itu sekarang diisi dengan lebih banyak lagi sebutan.
Kegunaan Londo Gosong ini di jaman penjajahan kuno seringkali hanya sebatas disuruh jadi mata-mata untuk menangkap tokoh pahlawan anak negeri. Sedangkan di jaman kemerdekaan, fungsi Londo Gosong ini banyak sekali. Beberapa di antaranya adalah memprivatisasi BUMN, bakulan dan makelaran satelit, bakulan kapal tanker, ngobral gas alam, minyak, emas, tembaga, timah dan barang tambang lainnya yang menghasilkan nilai kontrak seharga kacang goreng dengan bonus gratifikasi wedhus dan sapi beserta anak cucunya dan lain sebagainya. Pantas digelari Raden Ngabehi[2] Londo Gosong Panotobondho[3].
Di Bidang keamanan, Londo Gosong ini seringkali nangkepi orang berdasarkan pesanan Londonya. Kalau sang Londo ingin si Dulkamid anak bakul[4] godril[5] itu ditangkep dengan tuduhan tukang ngebom, maka sang Londo Gosong ini dengan tergopoh-gopoh langsung nangkep si Dulkamid, walaupun ternyata si Dulkamid gak punya salah apapun kecuali ngebom biologis alias ngenthut di muka umum dengan bau khas ala godril. Yang penting aliran dana dari ndoro tuan meneer Londo terkucur.
Di bidang moral, sang Londo Gosong selalu merujuk ketinggian budi pekerti moralnya dengan segala sesuatu yang datang dari ndoro tuan meneernya. Jika pamer kantong ASI dianggap etis oleh kaum Londo, maka Londo Gosong ini juga berlomba-lomba menggelar acara yang memamerkan organ sumber makanan jabang bayi itu. Lalu perempuan Londo Gosong ini merasa bangga manakala bisa berjejer bersama wanita Londo asli untuk memakai swimming suit mlipit dengan alasan pariwisata. Bangga bisa menunjukkan bahwa ke-Londo-annya sudah mendekati ambang persis. Jika di tanah Londo sanaada majalah semi kemproh[6] atau bahkan full kemproh, maka Londo-Londo Gosong ini tak puas jika belum membuat yang serupa di negerinya sendiri. Dianggapnya pakaian para inlander ini terlalu boros menghabiskan bahan kain. Maka dibuatlah majalah yang dipenuhi wanita dengan pakaian yang membuat munyuk[7] saja merasa dirinya lebih sopan dalam berbusana.
Di bidang seni, para Londo Gosong ini tak bisa membedakan mana seni dan mana air seni. Yang satu berarti indah, sedangkan yang satu jelas-jelas pesing. Tapi buat mereka sama saja, ibarat orang pilek disumpeli hidungnya. Sehingga buat mereka jorok boleh asalkan nyeni. Cabul boleh asalkan nyeni. Bebas berereksi asalkan nyeni. Membunuh pun tak masalah asalkan memiliki nilai seni. Semua boleh atas nama seni. Maka tak boleh ada sensor.
Di bidang hukum, para Londo Gosong ini berusaha meloloskan undang-undang yang bisa melunturkan kegosongannya, sehingga bisa tampak seperti Londo asli. Sedangkan undang-undang yang sekiranya menghambat proses kelondoan mereka akan dijegal dengan segala cara, termasuk walk out, demo atau pun pengerahanmassa, agar masa depan kelondoan mereka terjamin.
Di semua bidang, Londo Gosong ini bisa merambah. Maka, Londo Gosong yang dulunya cuma antek Kumpeni atau centeng berkumis bertopi marsose, sekarang berubah menjadi pengacara, politisi, aktifis HAM, LSM, seniman, sineas, developer perumahan, bankir, menteri dan bahkan juga anggota DPR.
Dulu, yang dijual Londo Gosong ini hanyalah tokoh pejuang yang dianggap pemberontak oleh sang Londo, macam si Pitung. Tapi Londo Gosong modern ini menjual apa pun yang laku untuk dijual karena bagi Londo Gosong, semuanya bisa punya harga—tentu saja kecuali dirinya yang memang sudah tak punya harga diri. Dulu, Londo Gosong lebih menyayangi gulden daripada gobangan, sementara saat ini yang menjadi raja mata uang adalah dollar. Dulu Londo adalah Belanda, sekarang Londonya berubah menjadi Amerika Serikat dan sekutunya, sedangkan Londo Gosongnya tetep anak negeri dewek dengan mental yang masih sama dengan moyangnya.
Maka berhati-hatilah sampeyan. Jika gaya hidup ala Londo diiming-imingkan ke hadapan sampeyan, lalu sampeyan merasa bahwa seyogyanya semua orang harus seperti Londo itu, maka anda perlu melihat diri sampeyan barangkali saja sampeyan sudah mulai bermetamorfosis menjadi Londo Gosong secara bertahap. Mungkin awalnya sampeyan hanya jual sawah agar bisa bergaya hidup ala Londo. Tingkat berikutnya menjual harga diri, moral, agama, lalu menjual bangsa dan negara sak ampas-ampasnya.
[1] Londo: belanda; gosong: hangus. Kata londo, kemudian digunakan untuk menyebut semua orang bule dari negara mana pun.
[2] Raden Ngabehi adalah salah satu gelar yang diberikan oleh keraton di Jawa, terutama Surakarta. Gelar ini diberikan kepada orang di luar keraton yang berjasa kepada masyarakat atau ahli dalam bidang tertentu, misalnya Raden Ngabehi Ranggawarsita,dll.
[3] Panotobondho: penata harta
[4] Bakul: jualan
[5] Godril adalah makanan tradisional sejenis kwaci yang dibuat dari biji pohon Munggur atau Trembesi, yang bisa membuat bau kentut lebih menyengat.
[6] Jorok, kotor
[7] Monyet
No trackbacks yet.