Sesungguhnya, jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya- untuk mengetahui apakah dia ikhlas terhadapa apa yang telah mereka yakini. Telah diceritakan oleh Anas (ra) bahwa Rasul Muhammad SAW bersabda:
‘Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukumannya dalam kehidupan ini; dan apabila menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan azab-Nya atas dosa-dosanya hingga dia kembali kepada-Nya di Hari Pembalasan’.
Tidak seorangpun, dalam sejarah manusia, yang diuji seperti para Nabi (Anbiyaa’), khususnya kelima orang yang ‘teguh hati’ (Ulul ‘Azmi).- Nuh, Musa, Ibrahin, Isa, Muhammad ( semoga rahmat dan kasih sayang Allah tetap atas mereka). Mereka adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah, namun Dia memberikan ujian yang teramat berat terhadap mereka , yang bagi orang lain tidak akan dapat menaanggungnya. Mereka diejek dan ditolak oleh kaumnya (orang-orang kafir), diserang, diboikot , diasingkan, dicela, difitnah, dianiaya dan dicemarkan. Sebagiannya bahkan dipenjara atau yang lebih buruk, dibunuh (oleh orang-orang Yahudi). Akan tetapi , Allah menjadikan kehidupan mereka sebagai contoh yang berguna bagi seluruh umat, dan, karena itu, terlihat apa yang harus diharapkan dari orang-orang kafir jika kita mengikuti dan menyeru ke Jalan Yang Lurus yakni penolakan, ejekan dan pembunuhan.
Setiap Muslim diuji oleh Allah, sehingga sangat pasti, disepanjang jalan kehidupan Anda, Anda akan diuji secara terus-menerus mungkin dengan kelaparan, kehilangan, kemiskinan dan penyakit. Allah SWT berfirman :
‘Atau apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Jannah tanpa diuji sebagaimana ujian yang datang kepada orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kelaparan yang sangat dan juga penderitaan yang sangat menggoyahkan sehingga Rasulullah dan orang-orang beriman bersamanya (para Shahabat) berkata, “ Bilakah (akan datang) petolongan Allah?” Yakinlah, pertolongan Allah sudah dekat (QS.2:214).
Namun, perlu untuk dicamkan bahwa karena muslimin berbeda-beda tingkatannya ( seperti yang dinyatakan oleh Allah), maka ujian-ujian mereka juga bervariasi, dalam sifat maupun kadarnya, tergantung kekuatan iman mereka. Maka, mereka yang paling banyak ujiannya adalah Anbiyaa’, Ulama, dan juga du’aat (para aktifis) yang berupaya melanjutkan perjuangan mereka- menyeru manusia kepada Tauhid, membongkar kemungkaran di masyarakat dan berperang untuk meninggikan Dienullah. Mereka telah mengorbankan hartanya, karirnya, keamanan dirinya, keluarga, kesehatan dan waktu dalam upaya menegakkan Dienullah di muka bumi. Dan karena pengorbanan mereka lebih besar daripada pengorbanan yang lain, maka ujian mereka akan lebih berat; dan semakin berat ujiannya, akan semakin besar ganjarannya (di Akhirat). Diberitakan oleh Imam at-Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda:
‘Besarnya ganjaran tergantung pada besarnya (beratnya) cobaan. Apabila Allah memncintai seorang hamba, Dia akan mengujinya. Sehingga, barangsiapa yang senang (menerima) akan mendapat ridho-Nya, dan barangsiapa yang tidak senang (dengan ujian itu) akan mendapatkan murka-Nya’. Sayangnya, bagaimanapun, mereka yang benar-benar berusaha untuk menirukan para Nabi saat ini- dengan berjuang mengubah masyarakat (menerapkan Syariat)- sangat minoritas. Seperti Anbiyaa’, mereka diserang oleh Kuffar (orang-orang kafir) dan Munafikin ( orang-orang munafik), diejek, dicemarkan, dan dicap ekstrimis, fanatik dan bahkan teroris. Bahkan banyak yang telah dipenjara, atau dibunuh ketika berjuang di jalan Allah. Namun, fitnah dan balaa’ (ujian) yang mereka buat seharusnyalah tidak pernah menghalangi seseorang dari jalan dakwah yang lurus, dengan bergabung dalam jamaah (kelompok) dan melarang kemungkaran. Sebaliknya, penderitaan mereka menyakinkan kita mengenal yang haq (benar) dan mengetahui jalan yang berduri ini menuju Jannah, karena itu, seharusnya membuat kita bersemangat untuk bergabung dengan pihak yang beruntung ini.
Anda mungkin mengaku Muslim, dengan melaksanakan sholat dan shaum Ramadhan, tapi bagaimana Anda berharap masuk surga tanpa ikut serta secara fisik dalam fardu kifayah untuk menegakkan Negara Islam (Darul Islam), dengan menyeru manusia untuk hidup dan menerapkan hukum-hukum Allah, menyeru kepada yang ma’ruf serta mencegah dari yang munkar.
Allah SWT berjanji akan menguji orang-orang beriman dan karenanya akan membedakan yang yang kadzib (orang-orang yang dusta) dari orang-orang yang baik (Muslim yang baik yang beramal). Ini adalah Sunnatullah, dan Sunnatullah tidak akan pernah berubah. Jadi, jangan biarkan penderitaan, penahanan dan ujian bagi orang-orang beriman membuat Anda goyah, berpalinglah untuk berusaha menegakkan Dinullah, atau Anda hanya akan menjadi seorang penonton.
Ibtilaa’ (ujian-ujian) dan tamhis (tekanan dan penderitaan oleh tangan-tangan orang kafir) adalah prasyarat untuk Jannah (Surga). Allah SWT berfirman :
‘Apakah orang-orang beranggapan bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ tanpa diuji lagi ? Dan sungguh telah Kami uji orang-orang sebelum mereka. Dan Allah akan mengetahui (kebenaran) orang-orang yang benar, dan akan mengetahui (kesalahan) orang-orang yang dusta ( QS. Al-Ankabut (29): 2-3).
Mereka yang meninggalkan kewajiban-kewajiban individu dan jamaah akan memasuki banyak masalah pribadi dan keluarga, dan tidak akan bisa mengatasinya. Bahkan, jika kita tidak bersatu dan menegakkan Syariah, kerusakan dan bencana akan terus meluas di bumi ini. Allah SWT berfirman:
‘Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah (bersatu di bawah sebuah kepemimpinan), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar’.(QS.8:73).
sumber : almuhajirun

